Perjalanan Pertama Belajar HTML Tahun 1999

Perjalanan Pertama Belajar HTML Tahun 1999, Tahun 1999 adalah masa ketika internet masih terasa seperti dunia lain. Bukan seperti sekarang yang tinggal buka YouTube, cari tutorial, dan semua ilmu langsung tersedia. Dulu, internet itu lambat, mahal, dan penuh kejutan. Modem dial‑up berbunyi kriiit… krik krik… tuuut setiap kali tersambung, dan kalau ada telepon masuk, koneksi langsung putus. Tapi justru di masa itulah rasa penasaran tumbuh paling besar.

Aku masih ingat betul bagaimana rasanya pertama kali membuka halaman web. Bukan untuk hiburan, bukan untuk belanja, tapi untuk mencari tahu bagaimana orang bisa membuat halaman sederhana dengan tulisan, gambar, dan warna. Dari situlah perjalanan panjangku sebagai blogger dan teknisi digital dimulai.

 Perjalanan Pertama Belajar HTML Tahun 1999

Perjalanan Pertama Belajar HTML Tahun 1999

Bertemu “Guru” Rusia dan Jerman di Yahoo Messenger

Salah satu hal paling unik dari era itu adalah betapa mudahnya bertemu orang asing yang baik hati. Lewat Yahoo Messenger—aplikasi chat paling populer saat itu—aku berkenalan dengan dua orang yang akhirnya jadi “guru” pertamaku dalam dunia HTML.

Yang satu orang Rusia, satunya lagi orang Jerman. Keduanya bisa bahasa Indonesia karena pernah tinggal di sini cukup lama. Kami sering ngobrol malam-malam, kadang sampai dini hari, membahas hal-hal yang sekarang mungkin dianggap sepele: cara membuat teks tebal, cara memasang gambar, cara membuat tabel, dan tentu saja… cara membuat tulisan berjalan.

Mereka mengajariku dengan sabar, baris demi baris, lewat chat. Tidak ada video, tidak ada screenshot, tidak ada screen sharing. Semua lewat teks. Dan anehnya, justru itu yang membuat proses belajarnya terasa sangat manusiawi.

Geocities: Rumah Pertama untuk Belajar HTML

Sebelum Blogger, sebelum WordPress, sebelum semua platform modern, ada satu tempat yang menjadi “rumah” bagi para pemula: Geocities. Di sinilah aku membuat halaman pertamaku.

Editor HTML-nya sederhana, bahkan cenderung primitif. Tidak ada auto‑complete, tidak ada highlight warna, tidak ada tombol “undo”. Semua harus diketik manual. Salah satu huruf saja bisa membuat seluruh halaman berantakan.

Tapi justru itu yang membuat setiap keberhasilan terasa luar biasa. Ketika halaman pertama berhasil tampil online—meski warnanya norak, ada GIF api di mana-mana, dan tulisan berkedip—rasanya seperti menemukan dunia baru.

 

Belajar <marquee> Sampai Sebulan

Salah satu hal yang paling kuingat adalah perjuangan mempelajari tag <marquee>. Sekarang mungkin terlihat lucu, tapi dulu itu seperti ilmu tingkat tinggi. Aku butuh hampir sebulan hanya untuk membuat tulisan bisa berjalan dari kiri ke kanan tanpa error.

Setiap malam aku mencoba:

  • mengubah direction
  • mengatur scrollamount
  • menambah behavior
  • mengatur lebar dan tinggi

Dan setiap kali gagal, aku kembali ke Yahoo Messenger untuk bertanya. Sampai akhirnya, suatu malam, tulisan itu bergerak. Pelan, tapi bergerak. Dan aku merasa seperti baru saja menaklukkan sesuatu yang besar.

Artikel Pertama: Simbol Transistor NPN dan PNP (1999)

Setelah cukup percaya diri dengan HTML dasar, aku menulis artikel pertamaku: simbol transistor NPN dan PNP. Topiknya sederhana, tapi sangat dekat dengan dunia yang kusukai: elektronik.

Artikel itu kutulis dengan gaya polos, tanpa teori panjang, tanpa SEO, tanpa struktur rumit. Hanya penjelasan singkat tentang perbedaan simbol transistor dan bagaimana mengenalinya di PCB. Tidak ada gambar canggih, tidak ada diagram interaktif—hanya teks dan satu-dua ilustrasi sederhana.

Yang membuatku bangga adalah: artikel itu masih hidup sampai sekarang. Sudah pindah platform berkali-kali, dari Geocities ke Blogger, lalu ke WordPress, dan akhirnya ke domain pribadiku. Tapi esensinya tetap sama: membantu pemula memahami hal teknis dengan cara yang sederhana.

Evolusi Blog Selama 27 Tahun

Perjalanan ngeblogku tidak selalu mulus. Ada masa-masa vakum, ada masa-masa sibuk, ada masa-masa blog hampir terlupakan. Tapi entah bagaimana, aku selalu kembali.

Dari HTML manual → Blogger → WordPress → domain pribadi. Dari artikel pendek → artikel teknis → artikel sejarah digital. Dari tulisan polos → tulisan yang lebih rapi dan terstruktur.

Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: passion untuk berbagi ilmu teknis.

Momen Aneh Tahun 2026: Ada User Betah 41 Menit

Baru-baru ini, aku melihat sesuatu yang membuatku terdiam: ada seorang pembaca yang bertahan hampir 41 menit di salah satu artikelnya. Angka yang bahkan di era modern pun jarang terjadi.

Aku sempat berpikir, “Ini orang ngapain? Nonton YouTube apa baca blog?”

Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin ini bukan kebetulan. Mungkin pembaca itu merasakan hal yang sama seperti aku dulu: menikmati proses memahami sesuatu yang teknis, pelan-pelan, tanpa terburu-buru.

Dan di titik itu aku sadar: perjalanan yang dimulai tahun 1999 ternyata masih berlanjut sampai sekarang.

Refleksi: Internet Berubah, Tapi Semangat Belajar Tidak

Internet sudah berubah total. Dulu serba manual, sekarang serba instan. Dulu belajar lewat chat, sekarang lewat video. Dulu HTML ditulis tangan, sekarang tinggal klik.

Tapi semangat belajar, Karena belajar itu tidak ada kata terlambat, rasa penasaran, dan keinginan untuk berbagi—itu tidak berubah. Dan mungkin itu alasan kenapa aku masih menulis Artikel sampai hari ini.


Internet Bukan Sekadar Teknologi — Tapi Tempat Belajar Kehidupan

Kalau dipikir-pikir sekarang, internet tahun 1999 itu bukan cuma soal teknologi.
Itu tempat orang belajar:

  • sabar
  • tekun
  • bertanya
  • mencoba
  • gagal
  • mencoba lagi

Tidak ada yang instan.
Tidak ada yang otomatis.
Tidak ada yang tinggal klik.
Tidak Semudah membalikan telapak tangan.

Setiap baris kode yang berhasil jalan terasa seperti kemenangan kecil.
Setiap halaman yang tampil tanpa error terasa seperti pencapaian besar.

Dan mungkin itu yang membuat generasi internet awal punya karakter berbeda:
kita tumbuh bersama keterbatasan, tapi justru itu yang membuat kita kuat.


Belajar HTML di Era Tanpa Google

Satu hal yang sering kulupakan adalah:
tahun 1999 belum ada Google seperti sekarang.

Mesin pencari yang populer waktu itu:

  • Yahoo
  • Altavista
  • Lycos
  • Excite

Dan hasil pencariannya sering tidak relevan.
Kadang kita mencari “cara membuat tabel HTML”, yang muncul malah artikel tentang matematika atau berita olahraga.

Jadi belajar HTML itu bukan “search → copy → paste”.
Belajar HTML itu:

  • baca forum
  • baca email list
  • tanya di Yahoo Messenger
  • coba sendiri
  • salah
  • ulang
  • salah lagi
  • ulang lagi

Sampai akhirnya berhasil.


Kenangan Tentang Warnet dan Waktu yang Terasa Cepat

Ada satu kenangan yang selalu muncul setiap kali aku mengingat masa itu: warnet.

Warnet tahun 1999 itu:

  • panas
  • penuh asap rokok
  • kursi kayu keras
  • monitor tabung 14 inci
  • keyboard berisik
  • koneksi lambat

Tapi entah kenapa, waktu terasa cepat di sana.
Satu jam terasa seperti sepuluh menit.
Dan setiap kali jam habis, rasanya seperti ditarik paksa keluar dari dunia lain.

Kadang aku menulis kode HTML di kertas dulu di rumah, lalu pergi ke warnet hanya untuk mengetik ulang dan menguji.
Begitu halaman tampil, aku tersenyum sendiri.

Itu momen yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Artikel Transistor Itu Bukan Sekadar Artikel

Ketika aku menulis artikel “Simbol Transistor NPN dan PNP” pada tahun 1999, aku tidak pernah membayangkan bahwa artikel itu akan bertahan puluhan tahun.

Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar:

Artikel itu adalah jejak digital pertamaku.
Itu bukti bahwa aku pernah belajar dari nol.
Itu bukti bahwa aku pernah bingung, pernah salah, pernah mencoba.
Itu bukti bahwa aku pernah memulai sesuatu yang akhirnya menjadi perjalanan panjang.

Dan yang paling menarik:
artikel itu masih dibaca orang sampai sekarang.

Ada sesuatu yang hangat dari fakta itu.
Seolah-olah masa lalu dan masa kini saling menyapa.


Dunia Berubah, Tapi Rasa Penasaran Tidak Hilang

Sekarang, tahun 2026, dunia sudah berubah total.

  • HTML bisa dibuat dengan builder
  • AI bisa menulis kode
  • Tutorial ada di mana-mana
  • Internet cepat
  • Semua serba instan

Tapi rasa penasaran itu…
yang membuatku bertahan 27 tahun…
itu tidak pernah hilang.

Setiap kali aku menulis artikel baru, aku masih merasakan sedikit sensasi yang sama seperti tahun 1999:

  • rasa ingin tahu
  • rasa ingin berbagi
  • rasa ingin membantu pemula
  • rasa ingin membuat sesuatu yang bermanfaat

Dan mungkin itu alasan kenapa aku masih bertahan sampai sekarang.


Kenapa Aku Masih Menulis?

Pertanyaan ini sering muncul di kepalaku.

Kenapa aku masih menulis?
Kenapa aku masih peduli?
Kenapa aku masih mengurus blog ini?

Jawabannya ternyata sederhana:

Karena menulis membuatku merasa hidup.
Karena menulis menghubungkanku dengan masa lalu.
Karena menulis membuatku merasa masih punya sesuatu untuk dibagikan.

Dan karena setiap kali ada satu orang yang membaca artikelnya sampai selesai—bahkan sampai 41 menit—aku merasa perjalanan ini tidak sia-sia.


Terima Kasih, 1999

Kalau aku bisa berbicara pada diriku sendiri di tahun 1999, aku ingin bilang:

“Teruskan.
Jangan putus harapan.
Suatu hari nanti, semua ini akan berarti bagi semua orang.”

Dan untuk dua orang asing dari Rusia dan Jerman yang mengajariku HTML lewat Yahoo Messenger…
Aku tidak tahu di mana kalian sekarang.
Tapi ilmu yang kalian berikan masih hidup sampai hari ini.

Internet boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Platform boleh berganti.

Tapi perjalanan belajar itu…
akan selalu menjadi bagian dari diriku.


1. Tahun 1999: Ketika Internet Masih Punya Bunyi

Kalau anak zaman sekarang buka internet, yang terdengar cuma klik.
Tahun 1999?
Internet itu punya suara.

Suara modem dial‑up itu legendaris:

kriiit… kriiit… kriiiiiik… tuuuut… cekekekekek…

Kalau suara itu muncul, artinya dua hal:

  1. Kamu berhasil konek.
  2. Kamu harus berdoa semoga tidak ada telepon masuk.

Karena kalau ada telepon masuk?
Selesai.
Koneksi putus.
HTML hilang.
Download gagal.
Dan kamu cuma bisa menatap layar sambil berkata:

“Ya Allah… ulang lagi dari awal.”

Warnet pun bukan seperti sekarang.
Tahun 1999-2000-an warnet itu:

  • panas
  • penuh asap rokok
  • kursi kayu keras
  • monitor tabung 14 inci
  • keyboard bunyinya tak tak tak tak tak
  • mouse bolanya sering macet karena kotor

Tapi di situlah semuanya dimulai.


2. Bertemu Dua Orang Aneh yang Baik Hati di Yahoo Messenger

Di tengah dunia internet yang masih primitif itu, aku bertemu dua orang asing yang anehnya… baik hati.

Yang satu orang Rusia.
Yang satu orang Jerman.
Dua-duanya bisa bahasa Indonesia karena pernah tinggal di sini.

Dan yang lebih aneh lagi:
Mereka sabar ngajarin HTML ke orang Indonesia yang baru belajar internet.

Bayangin bro…

Tahun 1999.
Tidak ada Google.
Tidak ada YouTube.
Tidak ada StackOverflow.
Tidak ada ChatGPT.
Tidak ada tutorial “HTML dalam 10 menit”.

Yang ada cuma:

  • Yahoo Messenger
  • forum jadul
  • email list
  • Geocities
  • trial & error

Setiap malam aku chat sama mereka.
Kadang sampai jam 2 pagi.
Kadang sampai ketiduran di depan monitor.

Mereka ngajarin hal-hal dasar:

  • cara bikin teks tebal
  • cara bikin garis
  • cara bikin tabel
  • cara pasang gambar
  • cara bikin link
  • cara bikin background warna-warni
  • dan tentu saja… cara bikin tulisan berjalan

Kadang mereka ngetik:

“Coba gini: <marquee direction="left">”

Aku coba.
Error.

Mereka bilang:

“Coba hapus spasi.”

Aku hapus.
Error lagi.

Mereka bilang:

“Coba tutup tag-nya.”

Aku tutup.
Error lagi.

Sampai akhirnya mereka bilang:

“Coba kamu restart modem.”

Dan… berhasil.
Ternyata masalahnya bukan HTML.
Masalahnya modemnya ngambek.


3. Geocities: Tempat Semua Webmaster Pemula Dilahirkan

Sebelum Blogger, sebelum WordPress, sebelum semua platform modern…
Ada satu tempat yang jadi rumah bagi pemula: Yahoo! GeoCities

Geocities itu seperti kampung global.
Ada “neighborhood”:

  • SiliconValley
  • Tokyo
  • SunsetStrip
  • EnchantedForest
  • Area51

Dan setiap orang punya “rumah” kecil berupa homepage HTML sederhana.

Editor HTML-nya?
Aduh bro…

  • tidak ada auto-complete
  • tidak ada highlight
  • tidak ada tombol undo
  • tidak ada preview otomatis
  • tidak ada CSS
  • tidak ada JavaScript modern

Kalau salah satu huruf, halaman langsung berantakan.

Tapi justru itu yang bikin seru.

Setiap kali halaman berhasil tampil, rasanya seperti:

“GILA! Gue bikin website sendiri!”

Walaupun isinya cuma:

  • background warna biru neon
  • teks kuning
  • GIF api
  • tulisan berkedip
  • counter pengunjung
  • dan tulisan berjalan yang akhirnya berhasil setelah sebulan

Tapi itu adalah kebanggaan.


4. Belajar <marquee> Selama Sebulan: Kisah Tragikomedi

Sekarang <marquee> dianggap tag jadul.
Tahun 1999?
Itu ilmu tingkat dewa.

Aku butuh sebulan untuk membuat tulisan berjalan dari kiri ke kanan.

Kenapa lama?

Karena:

  • tidak ada dokumentasi
  • tidak ada contoh
  • tidak ada video
  • tidak ada copy-paste
  • tidak ada AI
  • tidak ada highlight error

Dan setiap kali gagal, aku cuma bisa menatap layar sambil berkata:

“Kenapa kamu tidak mau jalan…?”

Kadang aku sampai curiga:

  • mungkin HTML-nya salah
  • mungkin modemnya salah
  • mungkin warnetnya salah
  • mungkin listriknya salah
  • mungkin aku yang salah memilih jalan hidup

Tapi ketika akhirnya tulisan itu bergerak…
walaupun pelan…
walaupun patah-patah…

Aku langsung teriak:

“AKHIRNYA JALAN JUGA!!!”

Orang di warnet sampai nengok semua.


5. Artikel Pertama: Simbol Transistor NPN dan PNP (1999)

Setelah bisa HTML dasar, aku menulis artikel pertamaku:
Simbol Transistor NPN dan PNP.

Kenapa transistor?
Karena itu dunia yang paling dekat denganku: elektronik.

Artikel itu sederhana:

  • menjelaskan perbedaan NPN dan PNP
  • menjelaskan simbolnya
  • menjelaskan cara mengenali di PCB
  • ditulis dengan HTML manual
  • tanpa CSS
  • tanpa gambar canggih
  • tanpa SEO

Tapi itu adalah artikel pertama.
Artikel yang membuka perjalanan 27 tahun ngeblog.

Dan yang paling gila:
Artikel itu masih hidup sampai sekarang.


6. Sejarah Internet Indonesia: Dari Warnet ke WiFi

1990-an: Internet untuk kampus & kantor

  • akses mahal
  • modem lambat
  • email pakai telnet
  • browsing pakai Lynx (teks doang)

1998–2003: Era warnet

  • warnet menjamur
  • paket 1 jam Rp 5.000
  • game Counter-Strike
  • chat Yahoo Messenger
  • browsing Geocities
  • download MP3 3 jam

2004–2010: Era Blogger & Friendster

  • blog mulai populer
  • template warna-warni
  • komentar rame
  • Friendster jadi raja
  • internet makin cepat

2010–2020: Era smartphone

  • semua pindah ke HP
  • blog mulai sepi
  • sosial media naik
  • YouTube naik daun

2020–2026: Era AI & konten cepat

  • orang baca cepat
  • tapi konten teknis tetap dicari
  • blog niche kembali hidup

Dan di tengah semua perubahan itu…
artikel transistor tahun 1999 masih bertahan.


7. Momen Aneh 2026: Ada User Betah 41 Menit

Ketika aku melihat ada user yang membaca salah satu artikelku selama 41 menit, aku langsung bengong.

“Ini orang ngapain? Baca? Tidur? Nonton YouTube?”

Tapi setelah kupikir-pikir…
mungkin dia menikmati prosesnya.
Mungkin dia tipe pembaca yang suka konten teknis.
Mungkin dia sedang belajar pelan-pelan.

Dan aku merasa…
perjalanan 27 tahun ini tidak sia-sia.


8. Refleksi Kenapa Aku Masih Menulis?

Jawabannya sederhana:

  • karena aku suka
  • karena aku ingin berbagi
  • karena aku ingin membantu pemula
  • karena aku ingin meninggalkan jejak
  • karena menulis membuatku merasa seneng

Dan karena setiap artikel adalah bagian dari perjalanan panjang yang dimulai tahun 1999.


9. Terima Kasih, 1999

Kalau aku bisa kembali ke tahun 1999, aku ingin bilang:

“Teruskan.
Jangan berhenti.
Suatu hari nanti, semua ini akan berarti.”

Dan untuk dua orang asing itu dari Rusia dan Jerman yang mengajariku HTML lewat Yahoo Messenger…
Terima kasih.
Ilmu kalian masih berguna sampai hari ini.

Internet boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Platform boleh berganti.

Tapi semangat belajar…
itu tidak akan pernah hilang.


Penutup

Perjalanan ini panjang, penuh cerita, dan penuh nostalgia. Tapi aku bersyukur pernah melewati masa ketika internet masih sederhana, ketika belajar HTML butuh kesabaran, dan ketika dua orang asing dari Rusia dan Jerman mau meluangkan waktu untuk mengajariku, Entah dimana dua orang itu saat ini.

Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan menulis artikel transistor pertamaku. Dan tanpa artikel itu, mungkin blog ini tidak akan pernah ada.

Internet boleh berubah, tapi semangat belajar akan selalu ada.

26 thoughts on “Perjalanan Pertama Belajar HTML Tahun 1999”

  1. Wah, asli baca artikel ini langsung berasa balik ke masa lalu. Dulu saya ingat banget pertama kali bikin tag sama rasanya udah keren banget padahal cuma tulisan jalan sama kedip-kedip di browser Netscape. Kira-kira menurut admin, skill dasar HTML 1.0 yang dipelajari zaman dulu masih relevan banget nggak sih kalau mau ditarik buat belajar framework modern sekarang? Soalnya saya lihat struktur dasarnya masih sama aja, cuma sekarang makin banyak bumbu-bumbunya. Salam dari sesama angkatan web jadul.

    Reply
    • Hai Budi, senang banget kamu menemukan kembali kenangan masa lalu lewat artikel kami. Memang, konsep dasar HTML masih relevan hingga sekarang, tapi kalau mau belajar framework modern, kamu harus terbuka untuk belajar bahasa pengaturan yang lebih modern seperti CSS dan JavaScript.

      Reply
  2. Jujur aja min, buat apa sih masih bahas HTML 1999 di tahun 2026? Sekarang zamannya udah pakai AI generator buat nulis kode, bahkan buat layout kompleks tinggal drag-and-drop aja. Saya rasa artikel kayak gini cuma buang-buang waktu buat pemula yang harusnya belajar hal-hal yang lebih praktis dan modern. Tapi ya sudahlah, mungkin emang buat hiburan orang tua aja ya. Gimana menurut admin?

    Reply
    • Maafkan saya, Aris S., saya tidak menggunakan HTML 1999 karena saya ingin membuat konten yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua orang. Saya tidak melihat ini sebagai soal gaya atau zaman, melainkan tentang cara berbagi informasi yang efektif.

      Reply
  3. Je ne comprends pas l’intérêt de parler de HTML 1999 aujourd’hui en 2026. Avec tous les outils d’IA que nous avons pour générer du code instantanément, apprendre les bases du vieux HTML semble être une perte de temps totale pour les débutants. Pourquoi s’encombrer avec des balises archaïques alors qu’on peut tout automatiser ? C’est une approche très nostalgique mais peu productive, non ?

    Reply
    • Bonjour Marc Laurent,

      Je comprends votre point de vue, mais je pense que comprendre les bases du HTML est encore essentiel pour comprendre comment les outils d’IA fonctionnent et pour être capable de les utiliser de manière efficace. En plus, apprendre le HTML peut être amusant et créatif, même si vous comptez utiliser des outils d’IA pour générer du code.

      Bien à vous,
      L’admin de dizarahayu.com

      Reply
  4. 在 2026 年还讨论 1999 年的 HTML 技术,这不觉得太落后了吗?现在甚至都不需要自己写代码,AI 自动生成的代码比人工写的更高效、更完美。对于初学者来说,花时间研究这些过时的标签完全没有意义。博主写这篇文章的初衷是为了怀旧,还是真的认为这有实用价值?我对此持保留态度。

    Reply
    • 我理解你的观点,但是我想说的是,有时候回顾历史和经典是为了学习和进步的基础。研究过时的技术可以让我们更好地理解当前的技术发展。

      Reply
  5. В 2026 году, когда нейросети пишут код за секунды, многие забывают, что основы программирования — это не просто синтаксис, а способ мышления. Старые технологии, такие как классический HTML, дают понимание структуры, которое необходимо для управления современными фреймворками. Мне интересно, каково ваше мнение о балансе между автоматизацией и глубоким пониманием фундаментальных процессов?

    Reply
    • Я соглашаюсь с вами, Илья, что умение программирования – это не только знание синтаксиса, но и способность мыслить логично. Баланс между автоматизацией и пониманием основ является очень важным, и мне кажется, что он постоянно должен быть в фокусе при обучении и развитии в этой области.

      Reply
  6. Es ist faszinierend zu beobachten, wie sich die Technologie entwickelt hat, aber ich frage mich oft, ob wir durch die ständige Nutzung von KI-Generatoren das grundlegende Verständnis für Webstrukturen verlieren. Auch wenn HTML 1999 alt erscheint, ist es das Fundament für alles, was wir heute tun. Wie sieht ihr das im Hinblick auf die Ausbildung der nächsten Entwicklergeneration?

    Reply
    • Hallo Lukas, vielen Dank für deine tiefschürfende Frage! Ich denke, es ist wichtig, dass die nächste Generation von Entwicklern nicht nur die Vorteile von KI-Generatoren kennt, sondern auch das Fundament der Webentwicklung, wie HTML, versteht, um künftige Herausforderungen besser meistern zu können.

      Reply
  7. Wat een boeiend onderwerp. In een tijd waarin alles wordt geautomatiseerd door AI, lijkt het soms alsof we de echte ambacht achter het bouwen van websites vergeten. Ik denk dat het kennen van de geschiedenis van HTML, zelfs uit 1999, je een betere ontwikkelaar maakt omdat je begrijpt hoe de browser informatie verwerkt. Denkt u dat de nieuwe generatie ontwikkelaars nog steeds de waarde hiervan in zal zien?

    Reply
    • Hallo Bram, bedankt voor je mooie reactie! Ik denk dat het juist belangrijk is dat we de geschiedenis van HTML niet vergeten, want daarin ligt de basis van het web zichzelf; het inzicht in hoe browsers werken is namelijk een krachtig onderdeel van het ontwerpen van websites.

      Reply
  8. Tá mé in am maith an bhuíochas leat as do thuairimí a chur chugat. Táimid tar éis a throid go dona chun an áiseanna ár gceann a chothú don chéad ghlúin.

    Reply
  9. Baca artikel ini bikin nostalgia masa awal belajar HTML. Salut banget bisa konsisten sampai sekarang, jadi motivasi buat yang baru mulai….terina kasih,…

    Reply
    • Selamat Rina Setyawati! Saya senang bisa menjadi inspirasi bagi kamu yang baru mulai. Semoga kamu juga dapat terus berkembang dan mencapai kesuksesan seperti kami!

      Reply
    • “Halo Dwi Nugroho, senang sekali kamu menemukan pengalaman belajar HTML di tahun 1999 bisa mengingatkan kamu akan proses belajar yang panjang tapi berkesan.”

      Reply
  10. Reading this brought back so many memories of the early internet days. Learning HTML in 1999 was truly a challenge, but also an exciting journey. Really inspiring to see your dedication from those times until now…

    Reply
    • I’m glad to hear that our website has transported you back to those early days of the internet. It’s amazing how far we’ve come, and I’m humbled to have been a part of it all, witnessing the evolution firsthand.

      Reply
  11. Es ist wirklich faszinierend, deine Geschichte über die ersten Schritte mit HTML im Jahr 1999 zu lesen. Damals war das Internet noch etwas völlig Neues, und viele von uns haben stundenlang vor dem Bildschirm gesessen, um die Grundlagen zu verstehen. Ich erinnere mich noch gut an die endlosen Versuche, einfache Webseiten zu gestalten, und wie aufregend es war, wenn endlich ein kleiner Code funktionierte. Dein Artikel weckt nicht nur nostalgische Erinnerungen, sondern zeigt auch, wie wichtig Geduld und Ausdauer beim Lernen sind. Es ist inspirierend zu sehen, dass du diesen Weg konsequent gegangen bist und heute deine Erfahrungen mit anderen teilst. Solche Geschichten motivieren mich und viele andere, weiterzumachen und niemals aufzugeben, egal wie schwierig der Anfang erscheint…

    Reply
    • Hallo Thomas Müller,

      Danke für deine wunderbaren Worte! Es freut mich, dass meine Geschichte dir angesprochen hat und du dich an deine eigenen Erfahrungen mit HTML zurückversetzt fühlst. Ich denke, es ist toll, dass ich teilen kann, was ich gelernt habe, und hoffe, dass es anderen hilft, sich nicht von Schwierigkeiten entmutigen zu lassen und weiterzukommen.

      Reply
  12. Táim ag súil go mór le feabhas a chur ar an gcaoi a bhfuilimid ag cur ár gcaoi ar fáil do na glúinte eile. Tá an creidiúnas agus an tinreamh atá ag an bhfoghlaim seo ach táimid ag iarraidh a bheith ag dul i gcabhair don ár n-ardaitheoirí a bheidh i gcónaí agus a gcineáltaíocht a thabhairt chuguibh.

    Reply
  13. Tá sé iontach a fheiceáil go bhfuil an plé seo ar bun faoi bhunús an ghréasáin sa bhliain 2026. Cé go bhfuil intleacht shaorga ag athrú an domhain, tá sé ríthábhachtach go dtuigfidh an chéad ghlúin eile conas a oibríonn na rudaí seo ó bhonn. An gceapann tú go bhfuil an iomarca muiníne á chur againn i gcórais uathoibrithe agus go bhfuilimid ag cailleadh ár mbuanna cruthaitheacha?……

    Reply
    • Go raibh maith agat as do chuimhne a thabhairt dúinn. Tá sé fíor a rá go bhfuil sé tábhachtach don ghlúin nua conas a thuigear conas a oibríonn na rudaí seo, agus go mór mór má táimid ag teastáil ón domhan seo a chosaint.

      Reply

Leave a Comment