Bagi generasi yang tumbuh besar di era 1980 hingga 2000-an awal, nama “Leces” pasti sudah tidak asing lagi. Jauh sebelum era digital mendominasi ruang kelas, buku tulis bergaris dengan sampul khas berlogo pabrik kertas ini adalah andalan utama anak-anak sekolah di Indonesia untuk mencatat pelajaran.
1: Fokus Nostalgia Buku Tulis
Gambar ini menangkap esensi kerinduan masa sekolah dulu. Ada tumpukan buku tulis legendaris dengan kertas buram khas Leces, lengkap dengan pensil kayu dan tas sekolah jadul di atas meja kayu tua yang hangat. Suasananya syahdu banget buat ngebangkitin kenangan.

Asal-Usul dan Pabrik Kertas Pertama di Nusantara
Nama “Leces” diambil dari sebuah kawasan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang menjadi rumah bagi PT Kertas Leces (Persero).
Pabrik Perintis: Berdiri sejak masa kolonial Belanda sekitar tahun 1939 dengan nama NV Papierfabriek Letjes, pabrik ini tercatat sebagai salah satu industri pengolahan kertas tertua di Asia Tenggara.
Transformasi Nasional: Selepas kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaannya dan menjadikannya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi berbagai kebutuhan kertas tulis serta cetak nasional.
Karakteristik Khas Buku Tulis Leces
Buku produksi pabrik Leces memiliki ciri fisik yang melekat kuat di ingatan para pelajarnya:
Kertas Buram Berkualitas: Menggunakan kertas CD (buram) berwarna agak kecoklatan yang terkenal awet, tidak mudah tembus tinta pulpen, dan nyaman untuk menulis dalam waktu lama.
Simbol Kesederhanaan: Menjadi perlengkapan sekolah yang merakyat, sering kali dibungkus sampul plastik coklat atau sampul bergambar pahlawan masa itu.
Perjalanan Akhir dan Warisan Sejarah
Seiring ketatnya persaingan industri global serta tantangan manajemen internal, kejayaan PT Kertas Leces perlahan meredup hingga akhirnya resmi berhenti beroperasi. Walaupun pabriknya kini telah tutup dan produk fisiknya sulit ditemukan, memori tentang buku Leces tetap abadi sebagai bagian dari sejarah pendidikan tanah air.
Sejarah Buku Leces
- Sejarah Buku Leces adalah kisah legendaris buku tulis biru yang populer di era 1980–1990-an, diproduksi oleh Pabrik Kertas Leces Probolinggo, simbol nostalgia anak sekolah Indonesia.
- Artikel ini membahas Sejarah Buku Leces, dari awal berdiri pabrik kertas tahun 1939, masa kejayaan produksi, hingga pembubaran PT Kertas Leces pada 2023.
- Nostalgia masa sekolah hadir lewat Sejarah Buku Leces, buku tulis ikonik yang menjadi bagian penting perjalanan industri kertas Indonesia.

Buku Leces dalam Kenangan
Nama Leces (atau ejaan lama Letjes) begitu melekat di ingatan anak-anak sekolah era 1980–1990-an. Pada masa itu, terutama di kampung, hampir semua murid hanya mengenal satu jenis buku tulis: Buku Leces. Sampulnya berwarna biru khas, namun mudah luntur bila terkena hujan. Pudaran warna biru itu sering menempel di tas kain, tangan, bahkan seragam putih murid.
Kenangan sederhana ini menjadikan Buku Leces sebagai simbol masa sekolah yang sulit dilupakan, meski kini buku itu sudah jarang ditemukan.

Sejarah Buku Leces Asal Usul Pabrik Kertas Leces
Pabrik Kertas Leces berdiri pada 1939 di Probolinggo, Jawa Timur, didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Konsep awalnya adalah memanfaatkan ampas tebu dari pabrik gula di sekitar Probolinggo sebagai bahan baku kertas.
Awalnya masyarakat hanya menyebutnya “pabrik kertas.” Nama Leces/Letjes kemudian diambil dari desa tempat pabrik itu berdiri. Kini, Leces bukan hanya nama desa, tetapi juga nama kecamatan di Kabupaten Probolinggo.
Dari Kolonial ke BUMN
Setelah Indonesia merdeka, aset-aset Belanda dinasionalisasi. Pabrik kertas Leces pun berubah status menjadi milik negara, dan kemudian resmi menjadi PT Kertas Leces (Persero).
Sebagai salah satu pabrik kertas tertua di Indonesia, Leces pernah berjaya dengan produksi besar, termasuk buku tulis yang populer di kalangan pelajar.
Masa Kejayaan
Pada dekade 1970–1980-an, Leces berkembang pesat:
- Produksi besar – kapasitas mencapai 640 ton/hari.
- Produk utama: HVS, newsprint, kertas daur ulang, dan buku tulis Leces.
- Dampak sosial – ribuan tenaga kerja terserap, kesejahteraan masyarakat meningkat.
Buku Leces menjadi produk unggulan yang dikenal luas di sekolah-sekolah Indonesia.
Masa Penurunan
Memasuki era 2000-an, Leces menghadapi masalah besar:
- Mesin tua dan biaya produksi tinggi.
- Utang besar – menunggak tagihan gas Rp41 miliar (2010).
- Restart singkat – sempat bangkit dengan produksi Medium Liner, HVS, dan Tissue ±5.000 ton/bulan, namun tidak bertahan lama.
Pada 2014, Leces sempat hidup kembali dengan suntikan dana pemerintah, tetapi tetap “sempoyongan.”
Pailit & Pembubaran
- Pailit 2018 – diputuskan oleh Pengadilan Niaga Surabaya.
- Pembubaran 2023 – Presiden Joko Widodo resmi membubarkan PT Kertas Leces bersama Merpati Airlines.
Warisan & Dampak
Meski telah bubar, Buku Leces tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah pendidikan Indonesia. Ia bukan sekadar alat tulis, melainkan simbol perjalanan panjang industri kertas nasional: dari kolonial, nasionalisasi, kejayaan, hingga keruntuhan.
Nama Leces kini hidup sebagai kenangan kolektif: sebuah merek buku tulis yang pernah mengisi masa kecil jutaan pelajar, sekaligus jejak sejarah industri kertas Indonesia.
Penutup
Buku Leces membuktikan bahwa produk lokal pernah menjadi fondasi penting dalam mencerdaskan jutaan anak bangsa. Mengenang kembali lembaran kertas buram ini adalah cara terbaik merawat memori masa kecil.
Punya kenangan tersendiri dengan buku tulis Leces? Yuk, bagikan cerita nostalgia masa sekolahmu di kolom komentar!
Baca Juga :
Mengenal Sejarah Alat Tulis Kantor Jadul
Nostalgia Peralatan Sekolah Era 90-an yang Dirindukan
Referensi: